Hal terpenting sebagai diplomat adalah bagaimana ia dapat mempertahankan kepentingan nasional negaranya dan mempengaruhi negara lain agar bertindak sesuai kepentingan nasionalnya.
Jakarta [UNAS] – Untuk menjadi seorang diplomat handal, para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional tidak hanya dituntut untuk mempelajari kajian-kajian hubungan internasional, tapi juga menanggapi dan memberi solusi terhadap isu-isu global yang ada di sekitarnya. Mewadahi kebutuhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional menyelenggarakan seminar bertema “Symposium Diplomatic Course” di Aula Utama Universitas Nasional, blok 1 lantai 4, Rabu (11/6).

“Symposium Diplomatic Course (SDC) ini merupakan salah satu program kerja HIMAHI yang berkaitan dengan kegiatan kami di Forum Kajian Mahasiswa HI Indonesia (FKMHII). Selain itu, kegiatan ini juga dirasa penting bagi mahasiswa HI sebagai sarana aplikasi ilmu yang telah didapat di kelas-kelas,” ujar Ketua Umum HIMAHI Universitas Nasional, Feby Kinanda, saat ditemui di ruang UPT-MPR, Selasar Blok 1 Lantai 3.

Dalam seminar yang bekerja sama dengan Indonesia Student Association For International Studies (ISAFIS) ini para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok delegasi negara. Kemudian setiap negara akan mendiskusikan topik yang terpilih terkait dengan kondisi nasional negaranya dan mempresentasikan hasil diskusi tersebut di hadapan delegasi negara-negara lain. SDC kali ini membahas tentang kesetaraan gender di bidang pendidikan di negara-negara berkembang.

“Symposium Diplomatic Course (SDC) merupakan sebuah kegiatan yang berisi simulasi Sidang Majelis Umum PBB, dimana setiap delegasi berusaha untuk menyampaikan kepentingan nasionalnya terhadap suatu isu dan juga berusaha memengaruhi negara-negara lain agar bertindak sesuai dengan kepentingan nasionalnya,” papar trainer dari Indonesia Student Association For International Studies (ISAFIS), Herlizar Rachman.

Sebelum melanjutkan pemaparannya, Herlizar memutarkan video singkat yang menggambarkan bagaimana situasi sidang PBB yang sebenarnya. Menurut Herlizar, sebelum mulai sidang biasanya moderator akan menyediakan beberapa topik yang akan dibahas dalam sidang hari itu. Kemudian para delegasi negara dapat memilih topik yang diinginkannya melalui sistem voting. “Yang terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana para delegasi mampu menanggapi isu yang dilontarkan dan mempertahankan pendapatnya serta mempengaruhi negara-negara lain agar setuju dengan pendapat tersebut. Dengan demikian, kepentingan nasional (national interest) negara tersebut dapat tercapai,” terang Herlizar.

Berbeda dengan SDC sebelumnya, pelaksanaan SDC tahun ini lebih terorganisir dan lebih terfokus pada penguasaan teknis sidang dengan menggunakan panduan Model United Nation (MUN). Melalui kegiatan ini, Feby berharap mahasiswa-mahasiswa HI tidak hanya tertarik mengikuti forum-forum skala nasional dan internasional, tapi juga menjadi ajang untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris agar mampu bersaing dengan lulusan HI dari Perguruan Tinggi Negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *